Pelantikan MPR

Aku berjalan di keheningan malam. Menyusuri gelap nan sunyi jalanan desa, saat yang lain terlelap dalam buaian mimpinya, aku tegap berjalan seorang diri. Lilin kecil yang tak boleh padam hingga tuntas sebuah tugas, mencari sebuah benda yang sangat berarti. Bisakah???

Memasuki pos pertama dengan bibir komat kamit berharap lancar sebuah tanya dari seorang seniorku.
"Assalamualaikum" ucapku memecah kesunyian, kedinginan dan ketakutan ku.
Waalaikumsalam, jawab seniorku yang nampak kedinginan juga.

Aku diam seribu bahasa setelah mengucapkan salam, dalam relung hatiku berkata, pertanyaan apa yang hendak di lontarkan kepadaku. Aaah ternyata di pos ini pemberitahuan tentang rute pengambilan sebuah pin serta beberapa pos yang harus saya lewati, tak ada pos bayangan di sana, terang seniorku. Hanya terdapat 5 pos saja. Sekarang silahkan lanjutkan perjalanannya, pos 2&3 tidak berjauhan. Baik jawabku.

Aku pamit dan segera pergi menuju pos dua. Di pertengahan jalan aku mendengar suara jeritan teman-temanku yang telah lebih dahulu pergi, aaah ada apa gerangan di sana?, rasa penasaran begitu menghantui. Aku berusaha tetap tenang dengan sebuah lilin yang ku pegang, aaah angiiin bersahabatlah dulu denganku malam iniii saja, ternyata anginpun meniup penerang kecilku.

Alhamdulillah ucapku setelah berjumpa dengan teman seperjuangan. Terdengar suara serigala dan kuntilanak membuat bulukudukku merinding. Jalanan yang gelap gulita, suara tangisan dan jeritan yang semakin dekat, Duaaar!!! Aah rupanya si akang ganteng malam ini jadi nampak cantik dengan mukenanya dalam hatiku. dan berkata ayo cepat...cepat ke sana!

Rupanya kuburan yang harus kami lewati. Pada malam itu, saya dan teman-teman yang sedari tadi belum jua mendapatkan apa yang di perintahkan sang senior akhirnya kerjasama, di atas batu nisan saya melihat bungkusan putih kecil dengan penerang lilin sang kawan, kami mencoba membuka bungkusan putih tersebut ternyataaa 'kerikil'. Seorang teman mengatakan 'ah sudahlah ayo kita tinggalkan tempat ini!', akang teteh senior pasti sengaja hanya melatih keberanian kita saja.

Kami beranjak pergi, saya berada di barisan paling belakang, dan aduuuh ucapku lirih kesakitan. Toloooong, kamu dimana? terdengar suara teman mencariku, aku jatuh ke lubang kuburan entah itu tempat sampah atau apalah yang membuat seluruh bajuku kotor. Aku segera bangkit sekuat tenaga untuk meninggalkan tempat tersebut.

Di pos ketiga kami di tanya materi tentang kesehatan serta pin yang di dapat di atas batu nisan tadi. Setelah lolos, kami kerjasama tanpa sepengetahuan senior. Dari pos tiga menuju gerbang sekolah kami bersamaan. Melewati lapangan upacara yang besar bisa menampung lebih dari seribu siswa kami lewati, tower,kantin serta koridor kelas hingga sampai di pos empat.

Di pos empat ini adalah ruangan yang sangat fenomenal sekali, sebab ruangan ini sudah tak asing lagi bagi saya, yaa ruang kejuruan multi media. Di pos ini saya di suruh merayap layaknya buaya entah cicak, senior perempuan sengaja mengujiku, entahlah apa maksudnya. Terkadang ia marah kepadaku, terkadang ia tertawa setelah melihat hpnya yang menyala.

Aah senior curang dalam hatiku, kenapa ia membawa alat yang di larang di sekolah ini??! Sambil berlari menuju lapangan sepak bola yang sangat luas di pertengahan jalan aku melewati pohon nangka, wangi semerbak bunga mati....kabuuuur aku lari sekencang-kencangnya seorang diri ingin segera sampai di pos terakhir.

Dengan nafas tersenggal senggal aku segera merebahkan diri di atas rumput ilalang. Eeeh si akang cantik nyapa aku, ia bertanya mana yang lain? Gak tau kang, mungkin masih di pos empat. Aku menatap langit berbintang, bulan nan indah serta angin yang sepoi-sepoi ingin sekali memejamkan mata, rupanya semua senior telah berkumpul semua menyuruh kami berbaris dan mengabsen siapa yang belum datang.

Lengkap semua, ucap senior di belakang barisan. Di pos terakhir inilah kami di bentak, di marahin pokoknya hingga para senior mengharapkan ada yang meneteskan air mata diantara kami malam itu.

Aku menunduk tak ingin melihat akang teteh senior berbicara. Sesekali aku melihat ke sebelah kanan dan kiri ku, ada yang senyum-senyum, ada yang ngebela diri dan duaaar dari belakang si teteh senior subur dan centil itu membuyarkan hatiku.

Maaf teh, ucapku.segera akupun menundukkan kepala. Ketika suara pemateri yang semakin keras aku melihat dari kejauhan si akang senior membawa ember lengkap berisi air dan gayung.

Kami di sirami layaknya hujan gerimis yang tiba-tiba. Seorang teman maju di marahin, di bentak dan tak mau kalah iapun membela diri. Kami mencoba jadi pahlawan namun tak mempan. Daaaan sebagai penutup kami di beri makan mi kuah di campur energen. Oeeeek rasanya mau Mun*ah. Akhirnya acara pelantikan PMR (Palang Merah Remaja) selesai.

Ditulis saat lagi sakit. Surabaya. ahad, 16Juli 2017

#30DWC7
#Squad7
#Day11

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.